WALHI Bengkulu Gelar Aksi di Pesisir Pondok Kelapa, Serukan Penanganan Serius Abrasi

0
4

Bengkulu, Wordcovernews.com – Puluhan aktivis lingkungan, pelajar, mahasiswa, dan anggota WALHI Bengkulu membentangkan spanduk bertuliskan “Pulihkan Pondok Kelapa, Bengkulu” di jembatan pertemuan muara Sungai Lemau dengan laut di Desa Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, sebagai bentuk kepedulian terhadap ancaman abrasi yang terus terjadi di wilayah pesisir tersebut.

Aksi tersebut dilakukan untuk menyoroti kondisi abrasi yang dinilai semakin parah dan belum mendapat penanganan optimal dari pemerintah.

Direktur Eksekutif WALHI Bengkulu, Dodi Faisal, mengatakan aksi pembentangan spanduk merupakan bentuk seruan kepada pemerintah agar segera mengambil langkah konkret dalam menangani persoalan abrasi di Bengkulu, khususnya di Desa Pondok Kelapa.

“Aksi pembentangan spanduk ini menyoroti belum adanya tindakan nyata atas parahnya abrasi yang terjadi di Desa Pondok Kelapa maupun wilayah pesisir Bengkulu secara keseluruhan,” kata Dodi.

Menurut WALHI, Desa Pondok Kelapa berada dalam ancaman serius akibat abrasi pantai dan kenaikan muka air laut sebagai dampak krisis iklim. Jika tidak ditangani, wilayah tersebut diperkirakan dapat tenggelam dalam kurun waktu 20 hingga 30 tahun mendatang.

Dodi menilai revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bengkulu Tengah berbasis perubahan iklim menjadi langkah penting untuk segera diterapkan, mengacu pada petunjuk teknis (Juknis) 5/2024 dari Kementerian ATR/BPN.

Ia menjelaskan, kebijakan tata ruang berbasis mitigasi perubahan iklim diperlukan untuk mengurangi risiko bencana akibat cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan, dan kenaikan muka air laut, sehingga wilayah pesisir yang rentan dapat menjadi prioritas pembangunan secara berkeadilan.

Selain Pondok Kelapa, WALHI juga menyoroti abrasi yang disebut melanda sekitar 525 kilometer kawasan pesisir Bengkulu, mulai dari Kabupaten Kaur hingga Mukomuko. Fenomena tersebut disebut telah menyebabkan kerusakan fasilitas umum, rumah warga, hingga tempat sandar perahu nelayan.

“Banyak fasilitas umum, rumah penduduk, dan tempat sandar perahu nelayan hancur dilanda abrasi. Akibatnya, nelayan kehilangan pekerjaan serta muncul dampak sosial ekonomi lainnya,” ujar Dodi.

WALHI juga mencatat puluhan hektare kebun kelapa milik warga hilang akibat abrasi. Lahan yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan masyarakat kini disebut telah tenggelam akibat terjangan air laut.

Karena itu, WALHI Bengkulu mengajak pemerintah dan masyarakat bersama-sama memperbaiki kondisi lingkungan serta memperkuat upaya penanganan abrasi yang dinilai semakin memprihatinkan.

“Kami mengajak semua kalangan untuk menjaga sungai, pantai, dan lingkungan di Provinsi Bengkulu. Penanganan abrasi membutuhkan keterlibatan bersama agar wilayah pesisir tetap terlindungi,” kata Dodi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here